A letter from daughter to father

Kisah ini terjadi di suatu pagi, saat seorang ayah hendak mengetahui hasil ujian putrinya. Maka diapun pergi ke kamar anaknya dan di situ dia mendapati sebuah surat. Karena surat itu ditujukan buat dirinya, maka diapun mulai membaca surat dari putirinya tersebut.

Ayah tercinta,

Aku menulis surat ini dengan perasaan sedih dan sangat menyesal. Saat ayah membaca surat ini, aku telah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi bersama kekasihku, dia cowok yang baik. Setelah bertemu dia, ayah juga pasti akan setuju meski dengan tattoo dan piercing yang melekat di tubuhnya, juga dengan motor bututnya serta rambut gondrongnya.

Dia sudah cukup dewasa meskipun belum begitu tua (aku pikir jaman sekarang 42 tahun tidaklah terlalu tua). Dia sangat baik terhadapku, lebih lagi dia ayah dari anak yang ada di kandunganku saat ini. Dia memintaku untuk membiarkan anak ini lahir dan kami akan membesarkannya bersama.

Kami akan tinggal berpindah-pindah, dia punya bisnis extacy yang sangat luas, dia juga telah meyakinkanku bahwa marijuana tidak begitu buruk. Kami akan tinggal bersama sampai maut memisahkan kami.

Para ahli pengobatan pasti akan menemukan obat untuk AIDS jadi dia bisa segera sembuh. Aku tahu juga dia punya wanita lain tapi aku percaya dia akan setiap padaku dengan cara yang berbeda.

Ayah, jangan kuatirkan keadaanku. Aku sudah 15 tahun sekarang, aku bisa menjaga diriku sendiri. Salam sayang untuk kalian semua. Oh iya, berikan bonekaku untuk adik, dia sangat menginginkannya.

Perasaan ayahnya begitu terguncang setelah membaca surat lembar pertama putrinya tersebut. Tangannya gemetaran dan dia tak habis pikir bagaimana nasib putrinya selanjutnya. Namun, dia bulatkan tekad dan ingin membaca lembar kedua. Bunyinya seperti ini :

Ayah, tidak ada satupun dari yang aku tulis di atas itu benar. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa ada ribuan hal yang lebih mengerikan daripada nilai raportku yang buruk. Kalau ayah sudah menandatangani raportku di atas meja, panggil aku ya. Aku tidak kemana-mana, saat ini aku ada di tetangga sebelah….

Meski putrinya mendapatkan nilai raport yang buruk, sang ayah kemudian menyadari bahwa memang apa yang putrinya katakan benar dan dia lega bahwa putrinya tidak pergi dengan lelaki sembarangan. Begitu banyak hal yang lebih mengerikan daripada nilai raport yang buruk.

Dia juga mengagumi putrinya yang dengan cerdik menyampaikan nilai raport tersebut. Tapi dia bertekad bahwa nilai raport adalah sebagian nilai yang akan dia ajarkan pada sang anak, selain itu juga ada rasa takut akan Tuhan yang perlu terus dia ingatkan pada anaknya.

View on Path

Advertisements
This entry was published on June 26, 2014 at 11:41 and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: